Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta bekerjasama dengan IAKN Manado selenggarakan Diskusi Buku “Menafsir LGBT dengan Alkitab” Karya Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D. Diskusi berlangsung di Auditorium Lt. 2 Gedung Kuliah Terpadu IAKN Manado dan dihadiri oleh para akademisi, aktivis, pemerhati LGBT, budayawan, sosiolog, tokoh agama, komunitas bahkan masyarakat lintas agama. Mewakili Rektor IAKN Manado, Dr. Heldy J. Rogahang, M.Th selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga membuka secara langsung kegiatan ini dengan harapan supaya budaya membaca dan menulis buku terus didorong untuk meningkatkan produktifitas karya ilmiah. “Mari kita jadikan momen ini sebagai momen yang strategis untuk menyerap ilmu dan inspirasi dari Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D.”

Diawali oleh Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D yang memperkenalkan karyanya dan latarbelakang sehingga beliau terdorong untuk menulis buku dengan sub judul “Tanggapan terhadap Pernyataan Pastoral Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengenai LGBT”. Beliau menyampaikan bahwa ia diminta oleh teman-teman dari PGI untuk mengambil bagian dalam Simposium Biblika mengenai LGBT yang berlangsung di Jakarta pada tahun 2017, sehingga tersusunlah karya yang terdiri atas Bab: I. Pendahuluan; Bab II Titik Tolak Hermeneutis: Sola Scriptura? Ya, tetapi Ada Plusnya; Bab III Tafsiran Ayat-ayat Alkitab yang Dianggap Pro-LGBT dan Anti-LGBT; Bab IV LGBT dan Dinamika Teks dan Konteks dalam Masyarakat Indonesia; Bab V Penutup: Bagaimana Selanjutnya?

Diskusi pun tampak begitu menarik setelah Lidya Kandowangko, MA (Dosen IAKN Manado, Sosiolog dan Peneliti LGBT di Sulut), Moh. Aan Anshori (Gusdurian, Koord. Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) dan Rajawali Coco (Aktivis) menanggapi buku “Menafsir LGBT dengan Alkitab”. Berbagai pendapat, pertanyaan dan pengalaman disampaikan peserta diskusi berkaitan dengan masalah Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender yang disingkat LGBT.

Pdt. Roos Pontororing-Bastian, S.Th, M.Si. yang pernah menjadi pimpinan di lembaga pendidikan ini (sebelumnya STAKN Manado) menyampaikan apresiasinya karena IAKN Manado semakin maju, apalagi ketika membuka kesempatan hadirnya berbagai tokoh pendidik dan penulis buku serta berbaurnya kampus keagamaan Kristen ini dengan kampus keagamaan lain. Beliau yang masih aktif dalam Perhimpunan Wanita Berpendidikan Teologi di Indonesia (PERWATI) menyampaikan pesan penting yaitu: “jadilah akademisi yang tidak hanya bergelut dengan dunia akademik tetapi juga bersahabat dengan semua orang”.

“Dalam pendampingan kepada banyak orang homoseksual, saya menemukan bahwa orang LGBT sering sekali mengalami patah hati karena ditinggalkan oleh pasangannya, padahal mereka baru berkenalan satu dua bulan. Akhirnya mereka tidak percaya pada kesetiaan cinta kasih dan berperilaku seksual yang permisif (bersifat terbuka). Mungkin karena tidak ada lembaga perkawinan yang bisa menjamin hubungan secara hukum, mereka sering selingkuh dan bergonta-ganti pasangan. Gonta-ganti pasangan ini membuat orang LGBT rentan terhadap penyakit HIV-AIDS. Sikap permisif ini membantu memicu citra di masyarakat bahwa orang LGBT adalah hiperseks yang permisif. Citra ini harus digemboskan oleh rekan-rekan LGBT!” Demikian kitipan pada bagian penutup dari buku “Menafsir LGBT dengan Alkitab” yang penting dan harus direfleksikan!

X